Kira-kira jam 12 siang, aku baru selesai makan, hpku berbunyi, ternyata yang menelepon adalah teman dekatku, Dina. Dia mengajakku untuk menemaninya di rumah omnya. Dia bilang omnya harus pergi untuk suatu urusan, jadi dia sendirian di rumah omnya. "Ada kolam renangnya Nes, kamu bawa bikini aja, kita bisa berenang sampe puas", katanya. Kupikir gak ada salahnya nemenin Dina disana, toh aku juga gak ada kerjaan. Maka dengan taksi aku menuju alamat rumah omnya. Sesampai disana, Dina menyambutku hanya ber bikini. Memang bodi Dina sangat mengundang napsu lelaki yang melihatnya. Toketnya besar, pantat juga besar. Mana bikininya minim lagi sehingga toketnya seakan mau tumpah dari branya yang sepertinya kekecilan. Perutnya rata dan jembutnya yang lebat nongol dari bagian atas dan samping cd bikininya ang minim sekali. "Dah makan Nes", tanyanya. "Udah", jawabku. Aku langsung diajaknya ke halaman belakang. Kulepas pakaian luarku, tinggal bikini yang gak kalah seksanya dengan bikini Dina. Aku langsung nyebur ke kolam dan berenang mondar mandir. "Din, tadi malem kamu maen ama om ya, berapa ronde?" "Om Rizal kuat banget deh Nes, aku dikerjainya 3 ronde, malem 2 ronde dan paginya msih sekali lagi, sampe lemes deh". "Wah nikmat dong kamu Din". "Iya om lama lagi maennya, aku nyampe beberapa kali baru om ngecret". "Gede gak k ontolnya". "Gede banget, ntar kalo dia pulang kita ngelayani dia gantian ya, kamu pasti nikmat deh die ntot om". Gak lama kemudian hp Dina berdering. Dia menerima telponnya, setelah selesai Dina bilang, "Nes, aku harus nganterin dokumen ke tempat temennya om. Om ada disana, dokumen pentingnya ketinggalan. Kamu aku tinggal sebentar gak apa ya". Ya aku mau bilang apa. Segera Dina berpakaian dan meninggalkanku sendiri dirumah itu. Aku masuk kedalem rumah, membuka lemari es dan mengambil buah2an, cake dan minuman. Semuanya aku bawa kekolam. aku bersantai saja di kolam, makan dan minum sambil berenang. Karena cape, aku berbaring saja di dipan dipinggir kolam membelakangi rumah. Aku mendengar ada orang masuk dan berjalan kekolam. "Din, kamu ya", kataku tanpa menoleh kebelakang
"Aku", terdengar suara lelaki, berat. Aku segera menoleh ke belakang. Kulihat ada lelaki ganteng, tegap atletis tersenyum memandangku. Aku segera bangun dari dipan. Dia melotot memandangi tubuhku yang gak kalah merangsangnya hanya berbalut bikini minim. "Aku om Rizal', kayanya memperkenalkan diri. "Om ini om nya Dina ya. Saya Ines om, temennya Dina. Dina yang ngajak saya kesini, disuru nemenin dia karena sendirian, eh malah ditinggal". "Iya, Dina mana, katanya mau nganterin dokumen kerumah temen om, om tunggu2 gak dateng2, makanya om pulang mau ambil dokumennya". "Dina udah pergi dari tadi om, dokumennya udah dibawa, selisipan kali". Om Rizal mengambil hpnya, rupanya dia menelpon Dina. "Iya, Dina ada dirumah temen om, dokumennya sudah dikasi ke temen om, ya udah lah. Kamu jangan pulang dulu ya, Nes". Dia duduk didipan, aku ditariknya duduk disebelahnya. Aku jadi keinget crita Dina tentang dia die ntot om Rizal sampe 3 ronde, sekarang giliran aku rupanya. Napsuku bangkit dengan sendirinya. Segera tanpa membuang-buang waktu lagi om Rizal menyambar tubuhku. Dilumatnya bibirku dan tangannya beraksi meremas toketku yang masih terbungkus bra bikini. "Hhhmm..gimana Nes? Udah siap die ntot?" kurasakan hembusan nafasnya di telingaku. Tangan gempalnya mulai meremasi toketku, sementara tangan yang lainnya mulai mengelus-elus pahaku. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya bisa menikmati perlakuannya dengan jantung berdebar-debar. Tangan yang satunya juga sudah mulai naik ke bagian selangkangan lalu dia menggesekkan jarinya pada daerah i tilku yang masih tertutup cd bikiniku. Dengan sekali sentakan ditariknya turun braku, "Whuua..bener kata Dina, kamu seksi dan merangsang sekali Nes", pujinya. "Toket Dina kan lebih besar om", jawabku terengah. Kini dengan leluasa tangannyamenjelajahi toketku dengan melakukan remasan, belaian, dan pelintiran pada pentilku, sambil tangan satunya merogoh-rogoh ke dalam cdku. Tiba2 dia mendorongku telentang didipan, dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke bagian selangkanganku. Jari-jari besar itu menyusup ke pinggir cd bikiniku, mula-mula hanya mengusap-ngusap bagian permukaan saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan jembutku, jarinya mencari liang n onokku. Perasaan nikmat begitu menyelubungiku karena hampir semua daerah sensitifku diserang olehnya dengan sapuan lidahnya pada leherku, remasan pada toketku, dan permainan jarinya pada n onokku, serangan-serangan itu sungguh membuatku terbuai. Kedua mataku terpejam sambil mulutku mengeluarkan desahan-desahan "Eeemmhh..uuhh". Dia langsung membuka pakaiannya, begitu cdnya terlepas benda didalamnya yang sudah mengeras langsung mengacung siap memulai aksinya. Aku terbelalak memandang k ontol hitam itu, panjangnya memang termasuk ukuran rata-rata, namun diameternya itu cukup lebar, dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol. Dia yang sudah telanjang bulat mendekatiku. Aku menggeser tubuhku memberinya tempat. Dengan lembut dibelainya pipiku, lalu belaian itu perlahan-lahan turun ke bahuku dimana kurasakan bra bikiniku mulai terlepas dan kemudian dia menarik lepas cd bikiniku hingga aku telanjang bulat. Dia mencium bagian dalam cd bikiniku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir n onokku. "Enak, baru cairan kamu aja udah enak, apalagi n onok kamu" katanya. Direngkuhnya aku dalam pelukannya. Tangannya bergerak menjelajahi tubuhku. Dia mengencangkan remasan pada toketku kananku sehingga aku merintih kesakitan "Aaakkhh..sakit om!". Dia hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat reaksiku. "Uuuhh..sakit ya Nes, mana yang sakit..sini om liat" katanya sambil mengusap-usap toketkuku yang memerah akibat remasannya. Dia lalu melumat toketkuku sementara tangan satunya meremas-remas toketku yang lain. Perlahan-lahan akupun sudah mulai merasakan enaknya. Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang n onokku sambil mulutnya terus melumat toketkuku, terasa pentilku disedot-sedot olehnya, kadang juga digigit pelan atau dijilat-jilat. Kini mulutnya mulai naik, jilatan itu mulai kurasakan pada leherku hingga akhirnya bertemulah bibirku dengan bibirnya yang tebal itu. Naluri sexku membuatku lupa akan segalanya, lidahku malah ikut bermain dengan liar dengan lidahnya sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir.
Om Rizal lalu berlutut sehingga k ontolnya kini tepat dihadapanku yang sedang telentang didipan. "Ayo Nes, kenalan nih sama k ontol om, hehehe..!" katanya sambil menggosokkan k ontol itu pada wajahku. Aku mulai menjilati k ontol hitam itu mulai dari kepalanya sampai biji pelernyanya, semua kujilati sampai basah oleh liurku. Semakin lama aku semakim bersemangat melakukan oral sex itu. Kukeluarkan semua teknik menyepong-ku sampai dia mendesah nikmat. Saking asiknya aku baru sadar bahwa posisi kami telah berubah menjadi gaya 69 saat kurasakan benda basah menggelitik i tilku. Dia kini berada di bawahku dan menjilati belahan n onokku, bukan cuma itu dia juga mencucuk-cucukan jarinya ke dalamnya sehingga n onokku makin lama makin basah saja. Aku disibukkan dengan k ontolnya di mulutku sambil sesekali mengeluarkan desahan. Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan lidah serta jarinya pada n onokku, tubuhku mengejang dan cairan n onokku menyembur dengan derasnya, aku telah dibuatnya nyampe. Tubuhku lemas diatas tubuh nya dan tangan kananku tetap menggenggam batang k ontolnya.
Setelah puas menegak cairan n onokku, dia bangkit berdiri di dipan. Tangan kokohnya memegang kedua pergelangan kakiku lalu membentangkan pahaku lebar-lebar sampai pinggulku sedikit terangkat. Dia sudah dalam posisi siap menusuk, ditekannya kepala k ontolnya pada n onokku yang sudah licin, kemudian dipompanya sambil membentangkan pahaku lebih lebar lagi. k ontol yang gemuk itu masuk ke n onokku yang cukup sempit. Dia terus menjejalkan k ontolnya lebih dalam lagi sampai akhirnya seluruh k ontol itu tertancap. "Ooohh..n onok kamu lebih peret dari n onok Dina, Nes, nikmat banget deh". Aku senang juga mendengar pujiannya. "Ines juga nikmat om, k ontol om gede banget". "Kamu belum pernah ngerasain k ontol gede ya Nes". "Yang gede sering om, tapi yang segede k ontol om baru kali ini, enjot terus om, nikmaaat". Puas menikmati jepitan dinding n onokku, pelan-pelan dia mulai menggenjotku, maju mundur terkadang diputar. Kurasakan semakin lama pompaannya semakin cepat sehingga aku tidak kuasa menahan desahan, sesekali aku menggigiti jariku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri-kanan sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana kemari. Tampangku yang sudah semrawut itu nampaknya makin membangkitkan napsunya, dia menggenjotku dengan lebih bertenaga, bahkan disertai sodokan-sodokan keras yang membuatku makin histeris. Kemudian tangan kanannya maju menangkap toketku yang tergoncang-goncang. Hal ini memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku. Setengah permainan, dia mengganti posisi. aku disuruhnya nungging di dipan. Dari belakang dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya. "Nah, ini baru namanya pantat" dia meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya. Saat dia mulai mengelus n onokku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah itu. Dia mulai mempersiapkan kembali k ontolnya dengan menggosok-gosokkan pada bibir n onok dan pantatku. Kemudian dia menyelipkan k ontolnya di antara selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis nikmat saat k ontol itu pelan-pelan memasuki n onokku. Kakiku mengejang ketika menerima sodokan pertamanya yang dilanjutkan dengan sodokan-sodokan berikutnya. Mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangannya meremas-remas kedua toketku sambil sesekali dipermainkannya pentilku yang sudah mengeras. "Ooohh.. enak banget deh nge ntotin kamu Nes!" celotehnya. Tusukan-tusukan itu seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari n onokku dengan deras sampai membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah nyampe sekali lagi. Aku mengira dia juga akan segera mengecretkan pejunya, ternyata perkiraanku salah, dia masih dengan ganas mengenjotku tanpa memberi waktu istirahat. Rambut panjangku ditariknya sehingga kepalaku terangkat. Sudah cukup lama aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan ngecret. Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan. Mendadak dia menarik lepas k ontolnya, aku sudah siap menerima semprotan pejunya, namun ternyata k ontol itu masih mengacung dengan gagahnya.
Om Rizal lalu duduk, "Sini Nes, om pangku!" suruhnya. Aku menurut saja dan tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, taku menuntun k ontolnya memasuki momokkku. Begitu kuturunkan pantatku langsung aku bergoyang di pangkuannya, dia pun membalas gerakkanku dengan menaik turunkan pantatnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Wajahnya dibenamkan pada belahan toketku, tangannya yang tadi mengelus-ngelus punggungku mulai meraba toketku, mulutnya menangkap toketku yang satu lagi. Toketku disedot dan dikulumnya, kumisnya yang terkadang menyapu permukaan toketku memberi rasa geli dan sensasi yang khas. Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan, "Uuugghh..n onok kamu enak banget, Nes". esahanku bercampur baur dengan lenguhannya. Kepalaku tengadah disertai lolongan panjang dari mulutku saat aku nyampe lagi, cairan n onokku kembali tercurah sampai membasahi dipan, secara refleks aku juga mempererat rangkulanku hingga wajahnya makin terbenam pada toketku. "Om, kuat banget sih nge ntotnya, Ines dah beberapa kali nyampe, om belum ngecret juga, lemes om". "Tapi nikmat kan?" Kemudian dia melepaskan k ontolnya dan menyuruhku berlutut di hadapannya, diraihnya kepalaku dan didekatkan pada k ontolnya yang lalu kujilati dan kusedot, rasanya sudah bercampur dengan cairan n onokku. Ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilatinya tiba-tiba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas, "Nes, aku mau ngecret, di bobok kamu ya". Segera aku dibaringkan didipan, dia menaiki aku dan sekali enjot k ontol besarnya langsung ambles semuanya di n onokku. Dienjotkannya k ontolnya keluar msuk dengan cepat dan akhirnya, "Ooohh..Nes, aku ngecret" dan disusul 'creett..creet..' pejunya menyemprot dengan deras didalam n onokku, terasa sekali semburan kuatnya menghangati bagian dalem n onokku. Demikian lelahnya aku, sampai tubuh seperti lumpuh dan mata terasa makin berat.
Sebelum terlelap aku masih sempat mendengarnya berkata dekat kupingku "n onok kamu enak banget, aku jadi ketagihan nih!".
Tiba-tiba kurasakan ada yang menciumku sambil meremas toketku, juga kurasakan ada jari-jari yang menggelitik n onokku. Aku mendesah nikmat, kubuka mata, Ahh..aku terbangun. Terkejut sekali aku. Begitu mata kubuka langsung nampak sesosok tubuh berada diantara kedua belah pahaku yang terbuka lebar. Ketika kesadaranku berangsur-angsur pulih nampak sosok lelaki telanjang yang bukan om Rizal, wajahnya berada dekat n onokku sambil mengorek-ngoreknya dengan jarinya. Aku berusaha bangkit dengan sisa tenagaku, tubuhku sedikit bergeser. Kutepis tangan itu dari n onokku dan langsung kurapatkan pahaku. Ketika menengok ke samping aku lihat Dina tersenyum memandangku. "Nes, ini om Usman, temennya om Rizal. Kayanya om Usman napsu banget ngeliat kamu telanjang. aku masuk dulu ya", Dina meninggalkan aku bersama om Usman yang sepertinya sudah siap untuk menge ntoti aku. Om Rizal hanya senyum2 duduk di kursi didekatku. "Kamu Ines, temennya Dina ya, tadi enak die ntot om Rizal", tanyanya. "emangnya om sudah disini dari tadi", jawabku. "Iya, nonton kamu nge ntot sama om Rizal, jadi sekarang aku napsu banget nih Nes, pengen nge ntotin kamu juga, mau ya". Om Usman mengambil kesempatan ketika aku sedang bingung itu dengan merenggangkan pahaku sambil mengelus-elusnya. Mulutku mengeluarkan desahan ketika jari-jarinya mulai menyentuh i tilku dan mengelusnya. Elusannya pada rambutku turun ke pipi, dan terus menurun ke leher hingga berhenti di toketku kananku yang lalu dibelai dan diremasnya. Dia mendekatkan mulutnya pada toketku dan menangkapnya dengan mulutnya. Gak lama kemudian dia bangkit dan mengajakku nyebur ke kolam, om Rizal ikut nyebur juga. Wah asik juga nih, maen ber3 di kolam. Aku menyibakkan rambut basahku ke belakang, melihat tubuh telanjangku yang telah basah oleh air kolam mereka berdua semakin bergairah dan mengerubungiku. Tangan-tangan mereka mulai menjamahi tubuhku. Aku tidak tahu lagi siapa yang mengerjai kedua toketkuku, meremas-remas pantatku, memilin-milin pentilku, dan mengusap-usap n onokku karena kupejamkan mataku dan tubuhku menggelinjang menahan nikmat. Tak terasa aku sudah berada di tepi kolam daerah 1,5 meter. Tubuhku dihimpit oleh om Usman di belakang dan om Rizal di depan, keduanya memelukku sehingga posisiku seperti daging burger yang dijepit diantara 2 roti. om Rizal menciumi wajahku, sesampainya di bibir, dia langsung melumatnya, lidahnya mendesak-desak ingin masuk ke mulutku, napsuku yang kembali naik membuatku membuka mulutku mempersilakan lidahnya bermain-main di mulutku. Sesudah itu mulutnya terus turun sampai ke toketkuku. Enngghh..om..!" desahku menahan geli bercampur nikmat ketika mulutnya melumat toketkuku secara bergantian. Aku merasakan pentilku disedot, digigit pelan bahkan sesekali ditarik oleh mulutnya, sementara telapak tangan om Usman bercokol di n onokku terus saja menggosok-gosok bibir n onokku.
Beberapa saat kemudian om Usman merentangkan kedua pahaku, betisku dinaikkan ke bahunya "Nes..aku dah pengen nge ntotin kamu sekarang ya!" katanya tidak sabaran. Aku melihat di bawah air sana, k ontolnya yang besar dan lebih panjang dari k ontol om Rizal mulai mendesak masuk ke n onokku, "Aaahhkk..ahh..om" itulah yang keluar dari mulutku saat dia menekankan dalam-dalam k ontol supernya hingga amblas seluruhnya, aku meringis sambil mencengkram lengan om Usman yang memelukku. "Ooohh.." dia juga mendesah setelah berhasil menancapkan k ontolnya di dalam n onokku. "Gimana Man?? seret ga n onoknya??" tanya om Rizal pada temannya. "Buset, seret amat nih n onok, udah ga perawan tapi rasanya kaya perawan, pinter juga Ines ngerawatnya!" puji om Usmanl sambil mulai menggenjot. Aku mulai merasakan k ontol itu bergerak keluar masuk pada n onokku, mula-mula gerakan itu lembut, namun lama-lama bertambah kencang. Aku mendesah-desah tidak karuan ditambah lagi dari belakang om Rizal bertubi-tubi mencupangi leher jenjangku serta mempermainkan toketku, pantatku meliuk-liuk ke kiri-kanan sehingga om Usman makin seru menggenjotku sampai air di sekitar kami beriak dengan dahsyat. "Akkhh.. oohh..eemmhh..!" eranganku tertahan tatkala bibirku dilumat om Usman. Akupun merespon cumbuannya, lidah kami saling beradu dengan liar.
Diserang dari dua arah begini sungguh membuatku kewalahan hingga akhirnya terasa dinding-dinding n onokku berdenyut makin kencang dan erangan panjang keluar dari mulutku disertai mengejangnya tubuhku sampai menekuk ke atas, otomatis kedua toketkuku pun makin membusung. Tubuhku lemas dalam pelukan mereka. Tapi om Usman belum tampak mereda, dia masih bersemangat menyodokkan k ontolnya . Aku merasa lelah dan ingin istirahat sejenak maka kudorong tubuh om Usman. "Udah dulu.. om, Ines lemes..uuhh" aku memelas. Dia lalu menarik lepas k ontolnya dan menurunkan pahaku sehingga aku dapat sedikit bernafas lega.
"Nes, pengen diemut deh", kata om Usman. Aku melihat ke bawah air sana, k ontol om Usman yang baru saja mengacak-acak n onokku, kuraih dan kugenggam, masih keras. Dia dengan berkacak pinggang sesekali mendengus ketika jari-jarku mulai mengocok dan membelai biji pelernya. Om Rizal pun mendekatiku dan meraih tanganku yang satu, lalu diletakkan pada k ontolnya. Kini k ontol om Usman berada ditangan kiriku dan k ontol om Rizal di tangan kananku, mereka merem melek menikmati pelayananku sambil sesekali membelai badanku. "Nah..sekarang aku pengen ngerasain mulut kamu Nes, ayo dong.. diemut " desak om Usman. Di bawah air kuraih k ontolnya dan kumasukkan dalam mulutku, karena panjangnya, benda itu sampai mentok di tenggorokanku. Lidahku mulai menjilat dan mengulum, sementara kurasakan sebuah tangan mengelus dan meremas pantatku dari belakang. Napsuku makin naik, terlebih tangan itu terkadang menyelipkan jarinya pada n onok atau pantatku. Aku makin liar mengemutnya, aku sendiri sudah merasa sesak di air. Gerakan pantatnya makin . Akhirnya beberapa semprotan kurasa menerpa langit-langit mulut dan tenggorokanku, aku menelan pejunya, rasanya asin dan kental. Segera aku timbul ke permukaan. Nafasku mengap-mengap sehingga toketku ikut naik turun seirama nafasku yang kacau. Mimik wajah om Usman menunjukkan dia puas sekali ngecret di mulutku. Kulihat k ontolnya sudah tidak setegang tadi lagi, ukurannya menyusut.
Beberapa menit kami beristirahat, om Rizal mengajakku naik ke pinggir kolam. "Gantian Nes.. sekarang aku di bawah, kamu di atas!" Wah aku jadi kerja rodi nih ngelayani napsu 2 lelaki yang kuat nge ntotnya. Mana Dina gak keluar2 lagi. Tapi ya udah, namanya juga berburu kenikmatan ya aku lakukan juga. Tanpa diminta lagi aku mengangkangi tubuhnya yang sudah rebah telentang di atas lantai marmer. Aku tanpa ragu menuntun k ontolnya yang sudah kembali mengeras ke arah n onokku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya. Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya, bahkan aku ikut membantu kedua belah telapak tangannya meremasi toketkuku. Om Usman menonton adeganku sambil tetap berendam di tepi kolam, kadang-kadang tangannya iseng merabai pahaku. "Ayo..goyang Nes..oohh!" om Rizal sepertinya ketagihan dengan goyanganku, begitu juga om Usman, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia keluar dari kolam dan berdiri di sebelahku, k ontolnya mengacung di depan mukaku. "Emut lagi Nes", katanya sambil menjejalkan k ontolnya ke mulutku. Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap k ontol om Usman. Saat mereka sedang asyik-asyiknya menikmatiku, tiba-tiba pintu terbuka, Dina muncul, bertelanjang bulat. Dia hanya bisa melongo melihat aku sedang dikerjai berdua. Tetap dalam posisinya om Rizal menengok ke samping dan menyapa Dina, "Ayo Din, join". Beberapa saat kemudian om Usman mencabut k ontolnya dari mulutku, namun aku masih harus menyelesaikan urusanku dengan om Rizal. om Usman mendekati Dina dan menepuk pantatnya. om Rizal sibuk menggerakkan pinggulnya membalas goyanganku. 15 menit dalam posisi 'woman on top' sampai akhirnya tubuhku bergetar seperti menggigil lalu "Aaahh..!!" Desahan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas. Tubuhku melemas dan ambruk ke depan, ke dalam pelukannya. Dia peluk tubuhku sambil k ontolnya tetap dalam n onokku, kami berdua basah kuyup oleh air kolam maupun keringat yang mengucur. "Ganti posisi yah Nes" katanya dekat telingaku. Lalu tubuhku ditelungkupkan. Aku nurut saja ketika posisiku diatur seperti merangkak. Segera k ontolnya terbenam lagi dalam n onokku, dan dienjotkannya dengan cepat dan keras, k ontolnya keluar masuk menggesek dinding n onokku, walaupun lemes aku merasa nikmat luar biasa. Dengan keras dia sodok-sodokan k ontolnya dan toketku yang menggantung diremas-remasnya. Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan om Rizal, juga dengan rintihan Dina yang sedang die ntot om Usman dalam posisi telentang di dipan. Om Rizal menarik wajahku dan memagut bibirku, diciumnya aku dengan lembut. Akhirnya kembali kukeluarkan cairan hangat dari n onokku, aku nyampe lagi. Permainan itu membuatku merem-melek dan banyak menguras tenagaku, akupun ambruk dengan nafas yang kacau. Dia mencabut k ontolnya yang masih ngaceng dengan kerasnya. Om Rizal menggantikan posisi om Usman yang rupanya sudah ngecret. Bener2 hebat om Rizal, gak ada matinya. Dengan penuh napsu dia menge ntoti Dina yang terkapar lemes, sampai akhirnya diapun ngecret di n onok Dina.
Malemnya setelah makan, om Rizal meninggalkan kami beryiga, dia masih ada urusan yang harus diselesaikan. Om Usman tidak menyia2kan kesempatan ini, minta dilayani oleh kami berdua. Dia berbaring telanjang di ranjang. Dina segera mengocok-ngocok k ontolnya perlahan. Aku berjongkok di depannya. Dina mulai memasukkan k ontol om Usman ke dalam mulutnya. Kepalanya mulai bergerak naik turun. Pipinya yang sedikit menonjol disesaki k ontol om Usman. Sementara aku menciumi dan menjilati pahanya menunggu giliran. Sesaat kemudian, Dina mengeluarkan k ontol om Usman dari mulutnya, dan aku langsung meraihnya dengan bernafsu. Kujilati terlebih dahulu mulai dari kepala sampai ke pangkal batangnya, dan perlahan aku mulai menghisap k ontol om Usman. Om Usman menarik Dina dan menciuminya. Dinapun membalas pagutan om Usman. Ciuman dan jilatannya kemudian beralih ke pentil om Usman, sementara k ontolnya masih menjejali mulutku. Segera om Usman menarik Dina kedalam pelukannya. Om Usman menjilati pentilnya. "Ahh...ssstt..." erangan nikmat keluar dari mulut Dina. Erangan ini semakin keras terdengar saat jari om Usman mengusap-usap n onoknya.
"Sebentar ya Nes.."kata om Usman sambil mencabut k ontolnya dari mulutku. Dina ditariknya sampai berbaring dan om Usman mengarahkan k ontolnya ke n onok Dina. "Pelan-pelan ya om." desah Dina perlahan. k ontol om Usman mulai menerobos n onok Dina. Erangan Dina semakin menjadi. Tangannya tampak meremas sprei ranjang. Mulutnya setengah terbuka, dan matanya terpenjam. "Ahhhh...ahhhh" desah Dina saat om Usman mulai menggenjot k ontolnya keluar masuk. Dina mulai menggelinjang merasakan k ontol om Usman menghunjam ke n onoknya sementara aku menonton adegan itu dengan penuh napsu. Om Usman menghentikan enjotannya dan mengganti posisi, sekarang Dina yang diatas. SKembali k ontol om Usman menerobos n onok Dina. "Ahhhh...." erangnya. Dina kemudian menggoyang-goyangkan tubuhnya turun naik mengocok k ontol om Usman didalam n onoknya. Om Usman meraih aku kedalam pelukannya dan mencium bibirku. Toketku diremasnya dengan gemas, pentilku mendapat giliran selanjutnya. "Sstttthhhh....sstttt" erangku saat om Usman menjilati dan dengan gemas mengisap toketku. Sementara Dina masih menggoyang-goyangkan tubuhnya. Matanya terpejam. Om Usman memilin-milin pentil Dina sementara aku menjilati pentil om Usman. "Ahhhhh......" erang Dina panjang saat dia nyampe. Tubuhnya mengejang beberapa saat, kemudian lunglai di atas tubuh om Usman. Om Usman menciumi pundak Dina beberapa saat, sebelum digulingkan kesebelahnya.
"Giliranmu Nes.." katanya. Akus langsung menghentikan hisapanku pada pentilnyau, dan dengan bergairah menggantikan posisi Dina. Aku menaiki tubuhnya dan kuarahkan k ontol om Usman ke n onokku. "Ihhh..gede banget...iihhhh" desahku saat k ontolnya menerobos n onokku. Dengan bernapsu aku menggoyang-goyangkan tubuhku. Toketku berguncang-guncang saat aku mengenjotkan pantatku turun naik. Terkadang om Usman menarik tubuhku agar dia bisa menghisapi pentilku. Bosan dengan posisi ini, om Usman minta aku menungging sambil memegang tepian bagian kepala ranjang. Disodokkannya k ontolnya kembali ke dalam n onokku. Aku kembali mengerang. "Ihh..ihh.." desahku saat dienjot dari belakang. Dina tak berkedip
melihat aku die ntot secara "doggy-style". "Sini Din" om Usman memanggilnya. Saat dia menghampiri, langsung om Usman kembali menciumi Dina, sementara itu tangannya memegang pinggangku sambil sesekali menepuk-nepuk pantatku. "Ihh..ihh.. Ines nyampe mas." erangku saat aku nyampe. Dia melepaskan k ontolnya dari n onokku. Aku ditelentangkannya dan segera k ontolnya ambles lagi din onokku. Om Usman dengan penuh napsu mengenjotkan k ontolnya dengan cepat dan keras, keluar masuk menggesek n onokku, sampai akhirnya dia menjerit keenakan. Terasa ada semburan peju hangat didalam n onokku. Diapun terkulai. "Om mainnya hebat banget ..." kata Dina sambil tersenyum. "Iya..kita berdua aja dibuat kewalahan..."sahutku sambil mengusap-usap dadanya. "Habis kalian cantik-cantik sih. Jadi nafsu nih" jawabnya. "Kita sih puas banget deh die ntot om, lemes tapi nikmaat banget, ya Nes" kata Dina. "Yang gemesin ini lho..gede banget ukurannya" kataku sambil mulai mengusap-usap k ontolnya. "Iya.Rahasianya apa sih om?" Kurasakan k ontolnya mulai mengeras lagi, luar biasa.
"Om, buat kenang-kenangan Dina video ya.." ujar Dina tiba-tiba, sambil bangkit mengambil HPnya. "Jangan ah. Udah nggak usah" om Usman menolak. "Ah..nggak apa om. Habis k ontolnya gemesin banget deh..Dina nggak ambil mukanya kok.." sahutnya. "Awas, bener ya. Jangan kelihatan mukanya lho" kata om Usman lagi. "Om berdiri di sini aja biar lebih jelas. Terus kamu isepin Nes.. Ntar gantian" kata Dina. Om Usman bangkit dan berdiri di samping ranjang. Aku kemudian berjongkok di depannya, dan mulai menjilati k ontolnya. "Rambut lkamu Nes..jangan nutupin" kata Dina sambil mulai merekam adegan itu. Om Usman membantu aku menyibakkan rambutku dan aku mulai mengulum k ontolnya sambil mengelus-elus biji pelernya. Dina merekam adegan itu dengan antusias. Om Usman mengerang nikmat, sambil membantu menyibakkan rambutku. Cukup lama aku mengemut k ontolnya. Sementara tampak Dina sangat terangsang melihat aku menikmati k ontol om Usman. "Nes..gantian dong.." katanya beberapa saat kemudian. Hpnya diserahkan ke aku, dan gantian Dina sekarang yang berjongkok di depan om Usman. Disibakkannya rambutnya kesamping agar aku dapat merekam adegan dengan jelas. Dijilatinya perlahan seluruh k ontol om Usman. Lubang kencingnya digelitik dengan lidahnya, kemudian mulutnya mulai mengulum perlahan k ontol om Usman. "Jangan pakai tangan Din.." kata ku yang sedang merekam adegan itu. Dina kemudian melepas tangannya yang memegang k ontol om Usman, dan ia memaju mundurkan kepalanya. Sesaat kemudian dia mengeluarkan k ontol dari mulutnya dan, tetap dengan tanpa memegang k ontol, Dina menjilatinya sambil bergumam gemas. Kemudian dihisapnya kembali k ontol om Usman dengan bernafsu. Diperlakukan seperti itu, om Usman gak tahan lagi. "Arrghh.. hampir ngecret nih.." erangnya. "Om yang ambil ya.." kataku sambil menyerahkan hp padanya. Aku kemudian berjongkok bersama dengan Dina. k ontol itu kukocok-kocoknya. Om Usman tidak tahan lagi. Sambil merekam adegan, dia ngecret membasahi muka kami. Setelah beristirahat sejenak, om Usman meminta hp Dina. Dia ingin memastikan wajahnya tidak terlihat di rekaman video yang tadi diambil. Kami mengobrol beberapa lama, sebelum beranjak pulang. Om Usman mengantarkan kami pulang. "Kapan-kapan kita maen lagi ya om", saat mobil sampai didepan rumah. Aku turun dan mobil melaju mengantarkan Dina kerumahnya, atau entah kemana.
8.3.10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Masukan Komentar Anda