8.3.10

Hitam Putih Orientasi Sex ku ( 1 )

“Met siang…Kak….!” salam kedua karyawatiku hampir bersamaan, Yulia dan Tiara kasir sekaligus recepsionist di salon dan spa milikku. Aku memang lebih suka dipanggil kakak oleh semua karyawanku, karena aku merasa belum tua untuk wanita seusia 29 tahun.

“Siang…!” balasku sambil memberikan senyum manis ke mereka berdua, aku berhenti di depan meja mereka yang berfungsi sebagai kasir sekaligus recepsionist.

“ Bagaimana hari ini, banyak tamu..?” tanyaku ke mereka.

“ Cuma 5 orang Kak, padahal ini kan hari Sabtu…” jawab Tiara sambil melihat list di layar komputernya.

“Ya…orang pada males keluar kali..di MPR kan ada demo BBM”, jawabku sambil sedikit menggerutu, karena aku juga kesal, perjalanan dari Apartementku di Kuningan ke salon dan spa milikku di Kebayoran Baru yang biasanya 20 menit sampai, hari ini aku mesti tempuh hampir 1 jam.

“ Tadi banyak siy Kak yang telpon mau spa, tapi cowo” ucap Yulia sambil membetulkan kancing bluesnya yang hampir lepas karena tu anak punya toket bener-bener big size, kira2 36B sizenya.

“ Awas aja kamu terima cowo, ntar potong gaji 2 tahun” balasku sambil becanda. Salon dan spa milikku memang hanya nerima wanita saja, alasan market dan bisnis.

“Iya Kak….kita tau koq..” balas Yulia sambil menggigit bibir sexynya dan melirik aku, entah apa maksudnya.

Aku bergegas meninggalkan mereka menuju ke ruang kerjaku, aku kalau sudah ngobrol suka larut, kadang dengan karyawanku seperti temen saja, aku pikir aku mesti tetap jaga wibawa di depan mereka.

Aku sedikit hempaskan tubuhku di kursi kerjaku, aku nyalakan computer, dan seperti kebiasaanku aku selalu ingin segera melihat aktifitas semua karyawanku, aku lantas nyalakan televisi yang juga berfungsi sebagai layar control kamera cctv yang terpasang di 4 titik. Layar televisi LCD 32” terpasang lurus dari meja kerjaku kira-kira berjarak 7 meter, menempel di dinding dengan lapisan wall paper warna pastel kesukaanku.

Aku topangkan daguku dengan tangan kiriku diatas meja, tangan kananku memegang remote, aku pencet remote untuk melihat kamera 1, segera dengan jelas dan full color aku bisa melihat seluruh ruangan lobby yang jugaberfungsi sebagai recepsionist dan kasir, aku bisa melihat setiap tamu yang datang atau pergi setelah membayar.

Aku lihat Yulia dan Tiara duduk berhadap hadapan sambil ngerumpi, ahh..penyakit orang Indonesia, gumamku dalam hati.

Aku beralih ke kamera 2, terpasang di ruang salon, ruang seluas 7m X 5 m, cukup untuk melayani 10 orang sekaligus.
Aku lihat ada 3 orang tamu, ada yang tengah creambath seorang ibu dan anak gadisnya, satu lagi aku sering lihat datang, tengah medicure dan pedicure.

Aku pencet kamera 3, ruang istirahat para karyawanku, ada 9 orang yang sedang tidak kerja sekarang, ada yang sedang makan, ada yang tengah nonton TV, bahkan ada yg saling pijit-pijitan,

Kamera 4, sengaja aku pasang di ruang spa VIP, dengan ruang ukuran 5 m X 5 m, ada bathub di pojok, dengan lantai dari batu alam, ada shower dengan dinding kaca tembus pandang, di dekat pintu masuk ada meja atau tepatnya tempat tidur untuk massage juga untuk lulur.

Total ada 7 ruangan untuk massage, hanya 1 yang aku lengkapi bathub dan showernya di dalamnya. Diluar sudah ada 3 shower, juga ada untuk sauna dan steam.
Ruangan ini kelihatan terang benderang, wah pemborosan listrik, padahal tidak ada tamu, lampunyapun bisa distel
redup atau terang,

“Yulia, ruang VIP lampu tolong dimatikan..!” aku telepon dari ruanganku.

“Baek Kak….emmm maaf Kak, saya mau menghadap boleh Kak ?”

“Boleh, tapi matikan dulu lampu itu, “ jawabku dan tanpa perlu tanya ada maksud apa mau menemui aku.

Aku segera menggantikan layar telivisi dengan asupan gambar dari chanel Fashion TV kesukaanku, karena aku pikir Yulia mau menemuiku, seluruh karyawanku tidak ada yang tahu kalau aku pasang beberapa cctv di tempat kerja mereka, teknisi yang memasang memang aku bayar mahal untuk menyembunyikan kamera-kamera itu sedemikian rupa.

Tok…tok…terdengar pintu diketuk, setelah mendengar aku sedikit teriak “masuk..!” Yulia nongol dipintu. Tanpa aku suruh dia langsung duduk di kursi tepat didepan mejaku.
Aku pura-pura sibuk dengan komputerku, karena layarnya ada di atas meja sedikit disisi kanan dengan ujung mataku aku masih bisa melihat Yulia.
Anak ini memang cantik, khas orang Menado, umur baru 20 th, kulit putih tentunya,

“ Kak…Yulia kadang jenuh duduk melulu…padahal kadang Yulia pengen kan gerak-gerak gitu, biar badan langsing dikit…” Yulia langsung nyerocos, padahal belum aku tanya maksud mau ketemu aku apa, yah..dia memang anaknya periang, berani, ceplas-ceplos kalau ngomong dan kadang keliatan polos.

Aku geser pandanganku dari layar komputerku, sekarang aku tepat lurus dengan wajah Yulia hanya dibatasi meja ukuran 1 biro. Aku pandang wajah Yulia, aku coba pikir mirip siapa anak ini, yah..mirip sekali dengan Agnes Monica, tapi sedikit gemuk, rambut pendek sebahu, bibir tipis mungil cirri-ciri orang cerewet, hidung mancung keatas dan bisa dengan jelas bisa dilihat kedua lobang kalau berhadapan hidungnya cirri-ciri orang tidak sombong, meskipun sedikit gemuk tapi Yulia punya leher jenjang dengan rambut kelihatan lemas dan halus ciri-ciri orang gampang selingkuh dan tidak punya pendirian dan mudah putus asa.

Tanpa menanggapi omongannya, aku lantas berdiri berjalan menuju kulkas yang berada di samping TV, aku tinggalkan Yulia di meja kerjaku sendirian, aku sengaja buat dia penasaran, tapi tepatnya aku ingin dia tenang bisa mensingkronkan pikiran,perasaan dan ucapannya.Aku ambil teh kotak dingin di kulkas, lantas aku duduk di sofa, kira-kira 5 meter dari meja kerjaku ada sofa panjang dan meja, aku lihat Yulia masih duduk di kursinya membelakangiku.

“Maksud kamu gimana Yulia..coba kamu pindah sisi duduknya” tanyaku sambil menyuruhnya pindah duduk kursi sofa kecil tanpa sandaran, yang ada di depan tepatnya di sebelah kanan aku duduk.

“Iya Kak…kalo boleh siy..Yulia juga pengen belajar massage atau apa aja, yang penting Yulia ngg duduk-duduk aja..biar tambah pengalaman gitu Kak..”

Aku tidak begitu hiraukan omongannya, aku perhatiin saat dia berdiri dari kursi berjalan kearah sofa, ni anak memang sexy, padat dan sekel, dengan jeans ketat dengan atasan blues ketat warna putih berenda model sekarang vintage, kelihatan sexy sekali, kancing-kancing bluesnya serasa mo lepas karena ukuran tok*tnya yang besar seperti memenuni seluruh dadanya cirri-ciri orang yang suka menolong orang lain.

“Menurutku, kamu tidak ndut, sexy malah aku lihatnya”, ucapku tiba-tiba sambil terus memandangi Yulia dari atas ke bawah, sambil aku selonjorkan kakiku diatas sofa, dan sekarang tubuhku aku senderkan di pinggir sofa sehingga aku bisa lurus memandangi Yulia sambil sedikit tiduran.

“Gimana ngga ndut siy Kak..orang kaya gini..?” jawabnya sambil berdiri dari duduknya, sementara tangan kanannya mencubit perutnya, seperti ingin menunjukan pada diriku kalau dia memang gendut.

“Coba lihat perut kamu..!”, tiba-tiba secara spontan aku ucapkan, dan tanpa sungkan Yulia mendekatiku berdiri di samping sofa di ujung kakiku.

Dia buka kancing bluesnya satu persatu, ketika semua sudah terbuka, aku bisa lihat toket yang begitu bagus dibungkus bra warna putih, perutnya yang putih mulus memang sedikit gendut tapi kencang tidak bergelambir.

Aku sedikit terpana, entah kenapa tiba-tiba dadaku terasa berdesir.

“Engga gendut ahh…coba lihat yang belakang..!” kataku masih dengan santai dan dengan mengatur ekspresiku.

Yulia pun langsung melepas semua baju atasnya, dengan memegang baju yang sudah dilepasnya dia memutar badannya ingin menunjukan ke diriku punggungnya. Dan aku hanya memperhatikan bongkahan pantatnya yang menonjol dibungkus jeans ketat, aku bayangkan seandainya jeansnya dilepas pasti indah sekali dua bongkahan didepan mataku ini, dan dengan tiba-tiba dia buka kancing jeansnya sambil masih membelakanginku dia buka celana jeans.

“Kalau punggung biasa aja kali Kak, tapi paha saya agak berlemak, coba liat deh Kak..!.

Kurang ajar dalam hatiku, dia tanpa aku suruh dengan berani dia buka jeansnya, tapi aku pikir mungkin karena polosnya dia, ahh..tidak ngga boleh begini bagaimanapun juga aku bosnya, dia karyawatiku.

Dan ternyata godaan lain dalam hatiku mendorongku untuk memaafkan situasi ini, yah..aku ingin melihat dia telanjang di depanku.

Yulia berdiri mendekatiku Cuma memakai cd bahan tipis, sampai kelihatan jembinya yang kelihatan tercukur rapi, branya pun juga sudah dilepasnya, dengan alasan aku ingin melihat bentuk toketnya, dia dengan senang hati membukanya.

Luar biasa sekali sebenarnya tubuh Yulia ini, tapi entah kenapa dia tidak pede dengan tubuhnya, atau cuma akal-akalan dia supaya bisa telanjang di depanku, tapi untuk alasan kenapa ?? aku tidak mau pusing dengan pertanyaan2 dalam hatiku.

Aku nikmati tubuh telanjang Yulia dengan jilatan mataku…darahku berdesir mengallir keseluruh tubuh dibarengin dengn sedikit mengencangnya urat-urat di beberapa bagian vitalku.

Berkecamuk berbagai pikiran, imajinasi dan hasrat di diriku, aku bayangkan aku raba seluruh tubuh Yulia, aku jilatain, aku cium.

Ahh..mungkin lebih nikmat kalau Yulia yang menjilatiku,menciumku, memelukku, aku liat jari-jari Yulia, aku bayangkan bagaimana kalau jari-jari ini mengelus mekiku, meraba mekiku, atau bagaimana kalau meki yang dibalut bulu-bulu rapi itu digosok-gosokan dengan mekiku.

Tidak, situasi ini harus aku akhiri, logikaku harus bisa mengendalikan semua, aku bos Yulia, dan aku tidak mau Yulia tahu kalau aku seorang Lines/Lesbian.

Aku balikan tubuhku sambil aku pegang pinggangku biar Yulia melihatku seperti aku sedang pegal, aku tengkurap di sofa, persetan dengan Yulia, aku harus netralkan aliran darah, aliran hasrat, aliran nafsu di tubuhku.

Tiba-tiba aku merasa ada yang menyentuh kakiku, wah ada apalagi dengan Yulia.

“Aku pijit ya Kak, Kakak kayanya kecapaean, biar sekalian tahu kalau Yulia bisa pijit”,

Aku diam saja, tidak menolak ataupun mengiyakan aksi Yulia, pelan-pelan aku bisa rasakan pijitan Yulia di kakiku, enak juga rupanya pijitan anak ini.

“Yulia pengen punya badan kaya Kakak gini, pakai baju apa aja juga kayanya enak diliatnya”,

Dengan tinggi 167 cm berat 50 aku memang merasa sudah proporsional dengan badanku, Aku siang itu memakai terusan simple dengan model ada belt dipinggang, warna coklat muda kesukaanku, temen-temen atau siapapun yang melihatku sering mengatakan wajahku persis seperti Maya Hasan pemain harpa itu.

“Kak, Kakak kan cantik…juga punya bisnis sendiri, kenapa siy Kak ngga married married?”, aku denger Yulia dengan polosnya menanyakan pertanyaan yang membesankan seperti biasanya orang-orang yang kenal denganku, temen, saudara juga termasuk ortuku sendiri.

Aku masih diam aja, pura-pura tidak dengar dan akupun pura-pura tidur, jujur aku mulai menikmati pijitan Yulia, aku rasakan pijitan masih sekitar telapak kaki naik sampai belakang lutut. Aku membayangkan bagaimana posisi Yulia sekarang karena aku tidak bisa melihatnya, ahh..masih telanjang tuh anak atau sudah berpakaian.

“Maaf ya Kak, biar ngg kusut”, tanpa minta persetujuanku Yulia menarik baju terusanku, dia buka dan tarik ke atas sampai batas pinggangku, dan pasti dengan jelas sekarang Yulia bisa melihat kaki sampai batas pinggangku, alamak..aku baru sadar kalau siang itu aku pakai G-String.

Yulia mulai pijit pahaku, dari batas lutut sampai pangkal paha, aku merasakan geli-geli tapi nikmat, apalagi kalau dia pijit pahaku bagian dalam, dan kadang entah sengaja atau tidak Yulia seperti menyentuh mekiku, dan jujur aku mulai horny….

Posisi tidur tengkurapku seperti sedikit bergoyang, duh..Yulia seperti naik ke sofa, dan aku bisa merasakan lutut kaki kanannya tepat ada diantara dua pahaku dan menempel di meqiku, sementara kaki kirinya ada disamping kiri pahaku, aku bisa membayangkan Yulia sedang berlutut, ohh..rupanya dia memijt pantatku sampai pinggang…..

Edan anak ini, entah apa yang ada dalam benaknya, sekedar ingin menyenangkan aku dengan mau memijitku, atau ingin menunjukan ke diriku kalau dia bisa mijit, atau ada maksud lain.
Aku benar-benar bisa menikmati pijitannya, dia pijit atau seperti mengurut pantatku, dengan posisi dua jempolnya menyatu dan telapaknya ada disisi kanan kiri pantatku, dia tarik dari pinggang kebawah, pelan-pelan dan aku bisa merasakan dua jempol tangannya seperti menelusuri celah bongkahan pantatku, trus kebawah, dan nikmat sekali ketika dua jempol itu melewati duburku terus kebawah dan berhenti tepat diatas clitorisku, meskipun aku pakai cd, tapi karena bahan sangat tipis, aku merasakan betul sentuhan Yulia.

Diulang-ulang gerakan itu, dan aku merasa ada cairan yang mulai membasahi meqiku. Ketika jempol dan tangan Yulia bergerak keatas, giliran lutut dan paha Yulia yang menempel rapat di meqiku, sebuah sensasi yang luar biasa, wah..akan lebih nikmat sekali kalau Yulia mau memijit dengan lotion atau minyak yang biasa therapistku pakai mijit.

Sekarang aku rasakan lutut Yulia seperti ditarik kebawah menjauh dari meqiku, dan dia pakai kedua tangannya mengurut bagian dalam pahaku dari batas lutut keatas sampai ke meqiku, terus diulang-ulang gerakan itu, dan yang membuat aku kaget tapi aku merasakan nikmat ketika dia masukkan kedua telapak tangannya seperti gerakan merogoh sampai batas perutku melalui meqiku, tanpa aku sadar aku mengangkat pantatku seperti memberi jalan kedua telapak tangan Yulia melakukan gerakan merogoh, dan ini jelas tangannya seperti mengelus meqiku dari perut ke bawah sampai pahaku bagaian dalam, orang gila..pikirku dalam hati, tapi aku membiarkan dan merasakan sensasi yang luar biasa, seerrr..aku rasakan meqiku makin basah.

Otak kiriku mulai bekerja normal, ini harus diakhiri pikirku, yah…Yulia tidak boleh tahu kalu aku menikmati, dia tidak boleh tahu kalau aku terangsang dengan sentuhannya, dan lebih-lebih Yulia tidak boleh tahu kalau aku seorang Lesbian.

Eehhhggg…!!! Aku gerakkan kedua tanganku seperti gerakan menggeliat orang bangun tidur, aku luruskan kedua kakiku dan aku seperti mau membalikkan tubuhku, aku rasakan Yulia berhenti memijitku, dan ketika aku coba membalikkan tubuhku lagi aku merasakan kakiku sudah bisa karena seperti tidak terhalang kaki Yulia.

Dan betapa kagetnya aku, waktu aku buka mataku Yulia seperti mengangkang kaki kiri dengan bertumpu lutut masih di sofa, sementara kaki kananya berdiri di lantai samping sofa, aku lihat dia masih telanjang tanpa bra, dan karena kedua kakinya seperti mengangkang dengan jelas aku lihat cd pas di meqinya seperti noda basah……anjritt Yulia rupanya terangsang juga, sinting anak ini jangan-jangan dia seorang Lesbian pikirku dalam hati
.
Dan tanpa dosa dengan polosnya dia masih diam dengan posisinya matanya jelas melihat meqiku, aku buru-buru menurunkan baju terusanku dengan tanganku, sambil berusaha bangun.

“Duhh..sampai ketiduran aku, ya udah kamu turun..!!” perintahku ke Yulia supaya menurunkan satu kakinya dari sofa

“Kalau sampai aku tertidur, berarti pijitan kamu enak, kamu boleh mijit tamu nanti tapi kalau di depan ngga repot” aku berusaha mengontrol bicaraku agar tetap kelihatan berwibawa.

“Asyikk..makasih ya Kak..”

“Ya udah kamu kembali kerja sana” ucapku sambil berdiri dan membetulkan baju dan rambutku. Dan aku perhatikan Yulia mulai memakai bra dan bajunya.

Sekembali aku dari toilet membersihkan meqiku, aku nyalakan cctv 1 ingin melihat meja kasir tempat Yulia, sambil duduk lagi di sofa aku pikirkan apa yang barusan terjadi, sambil sebentar-sebentar aku lihat layar telivisi dimana aku bisa mengawasi Yulia, aku lihat Yulia sedang ngobrol serius dengan Tiara, banyak sekali yang berkecamuk dalam pikiranku, apa Yulia tahu kalau aku lesbian, apa karyawanku ada yang tahu kalau aku lesbian, ah..aku pikir tidak, karena selama ini aku bisa menyembunyikan dengan baik, dan aku merasa selama ini tidak ada skandal baik dengan karyawatiku ataupun melakukan aktifitas sexual di spa milikku dan apakah Yulia dan Tiara lesbian, ahh..masa bodoh pikirku dalam hati.
Ya..aku merasa sudah bisa mengontrol dan mengendalikan semuanya dengan baik, tidak ada yang perlu aku kuatirkan, pikirku dalam hati.

Aku berdiri mendekat ke layar televisi, ketika aku merasa kenal dengan seseorang yang baru saja memasuki lobby berjalan kearah meja recepsionist. Dadaku terasa dag dig dug…..dan ketika wanita itu bicara dengan Yulia aku bisa melihat dengan jelas lewat cctv di layar televisiku, jantungku serasa copot…ya..ya….dia Kak Donna, sudah hamper 5 tahun aku tidak ketemu dengan dia, terkahir aku ketemu tahun 2003 ketika kau datang ke pernikahan adiknya, Fara temen sekolahku di SMP.
Bukankah dia ada di Surabaya, dan ada perlu apa datang ke salonku, aku perhatikan seksama mulutnya dan Yulia, aku berusaha ingin tahu apa yang dibicarakan, makin cantik kak Donna kelihatan sudah matang dengan penampilan trendy dan seperti wanita karir.

Aku mulai gelisah….yah..wanita inilah yang sudah merubah jalan hidupku, wanita inilah yang sudah merubah orientasi sexku, wanita inilah yang sudah mengajariku kenikmatan sex, wanita inilah yang sudah mewarnai jiwaku dengan hitam dan putih, wanita inilah yang sudah memainkan alam bawah sadarku dengan ironi, antara sayang dan benci, antara rindu dan dendam, antara cinta dan karma.


==bersambung==

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Masukan Komentar Anda

Koleksi Gambar Gw...

 

Free Blog Templates

Powered By Blogger

Easy Blog Trick

Powered By Blogger

Blog Tutorial

Powered By Blogger

© 3 Columns Newspaper Copyright by Kumpulan Cerita Dewasa cerita panas cerita sek serta koleksi gambar - gambar untuk 17 tahun + | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks